Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tuesday, June 18, 2019

HAKEKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERADAB


HAKEKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERADAB
( MAKALAH ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR )

ABSTRAK
Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya, kekompleksan itu, tidak hanya menyangkut masalah fisk semata melainkan juga menyangkut kebutuhannya, pola perilakunya, daya nalarnya, bahkan kehidupan yang dihadapinya. Dalam segi ilmiah terdapat beberapa pandangan tentang hakikat manusia, yaitu pandangan dari aliran materialisme, idealisme, realisme klasik, dan pandangan teologis. Kelebihan utama manusia dibanding dengan makhluk lainnya adalah bahwa otak manusia telah berevolusi sangat melebihi otak makhluk lainnya. Manusia sejak lahir juga sudah dikaruniai naluri, yaitu perasaan lain yang tidak ditimbulkan karna pengaruh pengetahuan melainkan karna sudah terkandung dalam organismenya, dan khususnya dalam gennya. Setelah manusia melalui proses pematangan, terutama pendidikan dengan makhluk hidup lainnya. Setelah melalui proses pematangan, terutama pendidikan, manusia menjadi raja dunia karena memiliki sejumlah kemampuan, seperti akal, perasaan, kemauan, fantasi, dan prilaku yang khas sehingga manusia di tempatkan di tingkat teratas.
Manusia merupakan makhluk yang mempunyai akal , jasmani dan rohani. Melalui akalnya manusia di tuntut untuk berpikir menggunakan akalnya untuk menciptakan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Melalui jasmaninya manusia dituntut untuk menggunakan fisik atau jasmaninya melakukan sesuatu yang sesuai dengan fungsinya dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Manusia sebagai makhluk yang beradab artinya pribadi manusia itu memiliki potensi untuk untuk berlaku sopan, berakhlak, dan berbudi pekerti yang luhur menunjukkan pada prilakun manusia. Ada beberapa unsur-unsur yang memiliki kaitan erat dengan manusia  sebagai makhluk yang beradab, diantaranya yaitu 1) Moral , yaitu nilai-nilai dalam masyarakat yang hubungannya dengan kesusilaan. 2) Norma, yaitu aturan, ukuran atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu yang baik atau salah. 3) Etika, yaitu nilai-nilai dan normal moral tentang apa yang baik dan buruk yang menjadi pegangan dalam mengukur dalam mengatur tingkah laku manusia.4) Estetika, yaitu berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam keindahan, kesatuan, keselarasan dan kebalikan. 5) Kebajikan, adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. 6) Sikap hidup, ialah keadaan hati dalam menghadapi hidup.



I.      PEMBAHASAN
            [1]Sebelum membahas tentang manusia sebagai makhluk yang berdab,perlu dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan hakikat manusia, manusia dan pengetahuan, manusia dan dorongan untuk bertindak, serta daya manusia. Dengan mamahami hal tersebut akan lebih mudah untuk dipahami mengapa manusia adalah makhluk yang beradab.
1.      HAKIKAT MANUSIA  
Kata manusia sendiri sering kali digunakan dengan pengertian yang berbeda-beda, misalnya ( Mulyoto,1989 : 59 ) berikut ini.
a.       Manusia itu tidak lain daripada binatang.
b.      Manusia adalah hasil sejarah.
c.       Manusia adalah  makhluk kerohanian.
d.      Manusia adalah yang mencoba untuk mempertahankan kemanusiaannya di dalam krisis yang terjadi.
Dari segi ilmiah terdapat  beberapa pandangan tentang hakikat manusia. Di sini akan di kemukakan pandangan dari aliran materialisme,idealisme,dan realisme klasik.
1)      Pandangan Materialisme
Menurut  pandangan materialisme, materi atau zat merupakan satu-satunya kenyataan dan semua peristiwa terjadi karena proses material ini, sementara manusia juga dianggap juga ditentukan oleh proses-proses material ini (Mulyono, 1998 :62 ).
2)      Pandangan idealisme
Pandangan idealisme beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya.  Tiga golongan pandangan idealisme yaitu idealisme rasionalisme, idealisme etis, idealisme estetis.
3)      Pandangan Realisme  Klasik
Pandangan ini diwakili, antara lain oleh pendapat dari (Mulyoto, 1989 : 64) berikut ini.
a.       John Wild, yang beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan atau kerohanian.
b.      [2]Hyle dan Morphe, yang berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk yang hylomorpkistis, tersusun atas materi dan jiwa.
4)      Pandangan Teologis
Pandangan teologis membedakan manusia dari makhluk  lain karna hubungannya dengan Tuhan(Mulyoto, 1989:65).

2.      MANUSIA DAN PENGETAHUAN
[3]Kelebihan utama manusia dibanding dengan makhluk lainnya adalah bahwa otak manusia telah berevolusi sangat melebihi otak makhluk lainnya. Otak manusia yang telah berkembang sangat pesat ini disebut dengan akal pikiran. Pengetahuan manusia itu sendiri sangat kompleks. Kekompleksan pengetahuan manusia inilah yang menjadikan manusia lebih unggul daripada makhluk lainnya. Leahy (1984) mengemukakan adanya beberapa sifat dari pengetahuan manusia yang memperlihatkan bagaimana pesatnya manusia mengelola pengetahuannya, hal yang tidak bisa dilakukan oleh makhluk lain.
1)      Pertama, bersifat indriawai lahir. Manusia memiliki dan mengembangkan pengetahuannya adalah melalui panca indranya.
2)      Kedua, bersifat indriawi batin. Disini manusia melalui ingatan dan khayalannya mampu mempunyai pengatahuan tentang apa yang tidak pernah ada, yang pernah ada, maupun apa yangtidak ada lagi.
3)      Ketiga, bersifat perseptif. Pengetahuan manusia juga bisa ditampilkan melalui gerakan atau suara yang sifatnya spontan sebagai bentuk adaptif terhadap situasi yang ada dihadapannya.
4)      Keempat, bersifat refleksif yitu ketika melalui pengetahuannya manusia mampu mengungkapkan kembali atau menuangkannya kembali apa yang diketahuinya dalam bentuk yang lain.
5)      Kelima, bersifat diskursif. Sifat ini menunjukkan bahwa melalui pengetahuannya manusia mampu mengetahui aspek aspek dari satu benda.
6)      Keenam, bersifat intuitif, dimana melalui pengetahuan intuitif ini kita, misalnya, bisa memahami secara langsung benda atau situasi dalam salah satu aspeknya.
7)      [4]Ketujuh, bersifat induktif. Yaitu ketika melalui pengetahuan tersebut manusia mampu manarik kesimpulan dari yang khusus ke yang umum.
8)      Kedelapan, bersifat deduktif, yaitu ketika melalui pengetahuan tersebut manusia mampu menarik kesimpulan dari umum ke yang khusus.
9)      Kesembilan, bersifat spekulatif, yaitu ketika melalui pengetahuan tersebut manusia mampu mempertimbangkan benda dalam bayangan bayangan, ide ide atau konsep konsep tentang benda tersebut.
10)  Kesepuluh,  bersifat sinergis, artinya pengetahuan tersebut ada dalam rangka keadaan manusia seutuhnya.
3.      MANUSIA DAN DORONGAN UNTUK BERTINDAK
            [5]Manusia sejak lahir juga sudah dikaruniai naluri, yaitu perasaan lain yang tidak ditimbulkan karna pengaruh pengetahuan, melainkan karna sudah terkandung dalam organismenya, dan khususnya dalam gennya. Naluri ini merupakan unsur produktif agar makhluk hidup dapat tetap bertahan dan lestari dorogan naluri tersebut sebagaimana dicetuskan oleh W. Mac Dougall dalam bukunya Introduction to Social Psychology (Koentjaraningrat, 1990: 109) diantaranya adalah berikut ini.
1)      Pertama, dorongan untuk mempertahankan hidup. Perasaan untuk tetap bertahan hidup merupakan dorongan naluriah, sedangkan upaya mencari makan atau membuat api penghangat tindakan atau perilaku.
2)      Kedua, dorongan sex. Karna sex merupakan dorongan naluriah maka adalah hampir tidak mungkin dan bahkan menjadi kurang manusiawi, apabila ditiadakan. Berbagai macam bentuk pangaturan dan pengendalian dorongan sex pada berbagai masyarakat antara lain upacara inisiasi ketika memasuki masa deasa pada beberapa kebudayaan.
3)      Ketiga, dorongan untuk mencari makan.
4)      Keempat, dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia. Dorongan ini merupakan landasan biologi dari kehidupan masyarakat manusia sebagai makhluk kolektif.
5)      [6]Kelima, dorongan untuk menerima tingkah laku sesamanya. Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya merupakan sumber dari beraneka warna kebudayaan diantara makhluk manusia.
6)      Keenam, dorongan untuk berbakti. Drorongan ini ada dalam naluri manusia karena manusia merupakan manusia merupakan makhluk yang kolektif. Untuk dapat hidup bersama dengan manusia lain secara serasi maka manusia perlu mengembangkan rasa simpati, kasih, sayang, pengorbanan, dan sebagainya. Rasa siimpati ini akhirnya berkembang dengan rasa kasih sayang dan mendorongnya untuk mengabdikan diri sepenuhnya bagi kemanusiaan  sampai akhir hayatnya.
4.      DAYA MANUSIA
[7]Setelah manusia melalui proses pematangan, terutama pendidikan dengan makhluk hidup lainnya. Setelah melalui proses pematangan, terutama pendidikan, manusia menjadi raja dunia karena memiliki sejumlah kemampuan, seperti akal, perasaan, kemauan, fantasi, dan prilaku yang khas sehingga manusia di tempatkan di tingkat teratas.
a.       Akal dan Inteliginse
Intelegensi merupakan kemampuan manusia yang bersifat potensial. Oleh karena itu,pemikiran yang aktif merupakan kekuatan yang bersifat fungsional. Berpikir merupakan suatu perbuatan operasional yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan hidup sebagai manusia.
b.      Perasaan dan Emosi
Perasaan dan emosi merupakan dua bagian integral dari keseluruhan aspek psikis seseorang. Perasaan merupakan warna atau suasana psikis seseorang yang mengiringi atau menyertai kegiatan dalam situasi khusus,serta sehubungan dengan adanya kesan setelah kegiatan berlangsung. Yang erat kaitannya dengan emosi adalah emosi sebagai wujud perasaan yang kuat. Perasaan yang menyangkut kerohanian, sedangkan emosi mempengaruhi rohani dan jasmani.
c.       Kemauan (konasi)
[8]Menurut Dra.Kartini dalam dalam bukunya psikologi umum, kemauan adalah dorongan kehendak yang terarah pada tujuan-tujuan hidup tertentu yang dikendalikan oleh pertimbangan akal budi.
d.      Fantasi
Menurut Drs.Agus Sujanto, yang dimaksud dengan fantasi adalah suatu daya jiwa untuk menciptakan sesuatu yang baru. Dengan fantasi, manusia dapat membuat sesuatu yang baru yang merupakan suatu kreasi.
e.       Perilaku
Keempat daya yang dimiliki manusia dia atas,yaitu akal, perasaan, dan emosi, kemauan, dan fantasi merupakan hal-hal yang menentukan perilaku seseorang.

5.      MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERADAB

A.  Pengertian Manusia Sebagai Makhluk yang Beradab
[9]Manusia merupakan makhluk yang mempunyai akal , jasmani dan rohani. Melalui akalnya manusia di tuntut untuk berpikir menggunakan akalnya untuk menciptakan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Melalui jasmaninya manusia dituntut untuk menggunakan fisik atau jasmaninya melakukan sesuatu yang sesuai dengan fungsinya dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dan melalui rohaninya,  rnanusia di tuntut untuk senantiasa dapat mengolah rohani nya, yaitu dengan cara beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan yang di anutnya.
Norma menjadi suatu hal yang penting untuk dapat dijadikan sebagai tolak ukur manusia yang beradab.
[10]Adab artinya sopan. Manusia sebagai makhluk yang beradab artinya pribadi manusia itu memiliki potensi untuk untuk berlaku sopan, berakhlak, dan berbudi pekerti yang luhur menunjukkan pada prilakun manusia Orang yang beradab adalah orang yang berkesopanan, berahklak, dan berbudi pekerti dalam perilaku, termasuk pula dalam gagasan-gagasannya. Manusia yang beradab adalah manusia yang bisa menyelaraskan antara cipta, rasa, dan karsa.
[11]Manusia adalah makhIuk yang beradab sebab dianugrahi harkat, martabat, serta potensi kemanusiaan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan realita bahwa manusia memerlukan kesopanan, akhlak, dan kehalusan budi pekerti dalam melakukan kontak sosial dengan masyarakat Iuas.
Peradaban sebagai produk yang bernilai tinggi, halus, indah, dan maju menunjukkan bahwa manusia memanglah merupakan mahkluk yang memiliki kecerdasan, keberadaban, dan kemauan yang kuat. Manusia merupakan mahkluk yang beradab sehingga mampu menghasilkan peradaban. Di samping itu, manusia sebagai mahkluk sosial juga mampu menciptakan masyarakat yang beradab.
Istilah peradaban dalam bahasa Inggris di sebut Civilization. Istilah peradaban sering di pakai untuk menunjuukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan. Peradapan berasal dari kata 'adab' yang berarti kesopanan, kehormatan, budi bahasa dan etiket Manusia beradab dapat diartikan sebagai yang memiliki akhIak mulia, yang memiliki kesopanan dan kehalusan budi pekertinya sedangkan manusia yang tidak memiliki akhlak mulia, atau yang tidak memilik kesopanan dan tidak halus budi pekertinya adalah manusia yang biasanya disebut biadab.
Adab erat hubungannya dengan:
1.      Moral , yaitu nilai-nilai dalam masyarakat yang hubungannya dengan kesusilaan.
2.      Norma, yaitu aturan, ukuran atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu yang baik atau salah.
3.      Etika, yaitu nilai-nilai dan normal moral tentang apa yang baik dan buruk yang menjadi pegangan dalam mengukur dalam mengatur tingkah laku manusia.
4.      Estetika, yaitu berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam keindahan, kesatuan, keselarasan dan kebalikan.



B.     UNSUR-UNSUR YANG BERKAITAN DENGAN MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERADAB
a.      Kesadaran Moral
[12]Kata moral berasal dari bahasa lain mores, kata jamak dari mos yang berarti adat atau kebiasaan. Menurut Gilligan dan Lawrence A. Blum, memiliki keterkaitan dengan kepedulian seseorang dengan yang lainnya. Moral tidak hanya berhubungan dengan tingkah laku, namun juga mengarahkan seseorang untuk dapat berbuat baik kepada orang lain.
 Istilah moral juga sering dikaitkan dan dihubungkan dengan kesadaran. [13]Kesadaran  mempunyai kata dasar sadar. Sadar menurut kamus bahasa indonesia sadar karangan  Poerwadarminta (1985), mempunyai beberapa pengertian, antara lain merasa, tahu, ingat,ingat kembali (dari pingsannya), siuman, bangun (dari tidur), dan mengerti.[14]Kesadaran moral sendiri merupakan suatu pengertian dari keadaan kejiwaan manusia yang selalu mendekati kebaikan, kebenaran, dan keadilan (Hudoyo,1979). Kesadaran moral juga memiliki keterkaitan dengan hati nurani (consience). Terdapat tiga cakupan dalam kesadaran moral. Pertama, perasaan yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang bermoral. Kedua, perasaan rasional dan objektif, yaitu suatu perbuatan yang secara umum dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang objektif dan universal. Ketiga, kebebasan, yaitu bebas menentukan perilakunya sendiri, dan didalam penentuan perilaku itu sekaligus memiliki kapasitas nilai manusia itu sendiri.
Unsur –unsur kesadaran moral, terdiri dari tiga hal,yaitu :
a.       Kewajiban
[15]Suara batin (hati nurani) harus selalu ditaati,dipatuhi. Dengan inilah seseorang itu merasa dibebani oleh suatu kewajiban mutlak untuk melaksanakan sesuatu. Kewajiban sangat erat kaitannya dengan tanggung jawab.
Kesanggupan seseorang terhadap suatu tugas wajib atau kemudian disebut kewajiban, akan berakibat sutu celaan tau menerima kibat tertentu jika tidak dilakasnakan. Apabila meninggalkan tugas wajib diartikan melupakan kewajiban atau tak bertanggung jawab. Jadi dengan adanya kewajiban itu ia memiliki tanggung jawab karena ia melakukan tugas wajib, sehingga pernyataan bahwa: ia tidak mempunyai kewajiban berbeda dengan ia tidak punya tanggung jawab. Sebab ad orang yang punya tugas wajib tetapi dapat pila dilakukan tanpa tanggung jawab.
·         [16]Makna Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku dan perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
·         Macam tanggung jawab
a)      Tanggung jawab kepada keluarga
Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan dan kehidupan.
b)      Tanggung jawab kepada masyarakat
Satu kenyataan pula, bahwa manusia adalah makhluk social. Manusia merupakan anggota masyarakat. Karena itu dalam berpikir, bertingkah laku, berbicara, dan sebagainya manusia terikat oleh masyarakat. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
c)      Tanggung jawab kepada bangsa/Negara
Tiap manusia adalah warga Negara suatu Negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh Negara. Manusia tidak dapat berbuat semau sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada Negara.
d)      Tanggung jawab kepada tuhan
[17]Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan. Sebagai ciptaan tuhan, manusia dapat mengembangkan diri sendiri. Dalam mengembangkan dirinya manusia bertingkah laku  dan berbuat. Sudah tentu dalam perbuatannya manusia membuat banyak kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Sebagai hamba tuhan, manusia harus bertanggung jawab atas segalaperbuatan yang salah itu atau dengan istilah agama atas segala dosanya.
Dapat disimpulkan bahwa:
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
b.      Rasional
[18]Kesadaran moral dapat dikatakan rasional karena ia berlaku objektif, universal, serta terbuka bagi penyangkalan dan pembenaran.
c.       Kebebasan
Kesadaran moral ini hanya terdapat pada makhluk yang berakal, yang memiliki perasaan, dan memiliki kehendak kejiwaan. Kesadaran moral hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki otonomi dan kepribadian. Otonomi dan kepribadian ini hanya dimiliki oleh manusia karena otonomi dan kepribadian ini adalah ciri-ciri manusiawi dari seorang manusia.
Moralitas seseorang sesungguhnya dapat digolongkan ke dalam beberapa tingkatan. Hudoyo (1979) membeginya kedalam 3 tingkatan sebagai berikut :
·         Instinctive morality level
Moralitas pada tingkatan ini adalah moralitas yang sifatnya hewani, contohnya kasih ayang yang diberikan oleh seorang ibu kepada anaknya atau juga kasih sayang dan perlindungan yang diberikan seekor induk harimau kepada anak anaknya.
·         Customary morality level
Moralitas pada tingkatan ini, umumnya moralitas yang mengacu kepada adat kebiasaan. Pada tingkatan ini perilaku seseorang akan di [19]dasarkan pada adat kebiasaan yang berlaku pada suatu masyarakat. Aturan- aturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis dijadikan kerangka acuan seseorang dalam bertindak.
·         Conscience morality level
Level ini adalah level tertinggi, yaitu kesadaran mora. Menyatakan bahwa kesadaran moral dalam penerapan atau realisasinya didasarkan pada kehendak atau otonomi dan kebebasan manusia. Dalam hal ini seseorang berbuat baik karena dia sadar bahwa dia memang merasa sudah seharusnya berbuat baik. Perbuatan itu merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat tidak harus dilakukan.
b.      Etika
[20]Istilah etika dalam bahasa indonesia berasal dari kata Yunani, ethos, yang berarti watak kesusilaan atau adat. Jadi, hampir sama dengan pengertian moral, yang berarti cara hidup, atau adat. Etika dipergunakan untuk mengkaji suatu sistem nilai yang ada, misalnya etika itu sesuai atau tidak dengan norma yang berlaku. Sedangkan moral dipergunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai, misalnya beramal merupakan perbuatan yang bermoral. Istilah lain untuk etika yang sering dipergunakan dalam masyarakat adalah susila atau akhlak.
Berikut diberikan dua buah definisi etika “Etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sebaiknya manusia hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan apa yang buruk, segala ucapan harus senantiasa berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan tentang peri keaadaan hidup dalam arti kata seluas luasnya.”
Penentuan segala sesuatu dalam masyarakat untuk memilih yang baik dan yang buruk, yang betul dan yang salah , harus sesuai dengan norma yang berlaku. Norma merupakan aturan, ukuran, atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu,betul atau salah, baik atau buruk. Norma dalam suatu masyarakat tentulah berbeda dengan norma dalam masyarakat lain, karena masing masing disesuaikan dengan adat kebiasannya. Walau demikian, [21]ada beberapa yang sama dan disebut sebagai norma yang berlaku umum. Norma yang berlaku umum ada tiga, yaitu sopan santun, hukum ,dan moral. Norma sopan santun hanya berlaku berdasarkan suatu kebiasaan. Norma ini terbentuk menurut pendapat kebanyakan orang sehingga dapat diubah menurut kebutuhan.
Norma hukum dalam praktiknya dapat dikatakan sebagai hukum itu sendiri, seperti yang telah dikemukakan dalam Bab IV Subbab 1, dan berlaku dalam masyarakat modern, antara lain hukum perdata, dan hukum pidana yang masing masing memiliki sanksi. Seseorang yang melakukan suatu pelanggaran terhadap hukum akan dikenakan sanksi. Sedangkan yang disebut norma moral adalah nilai nilai dalam masyarakat dalam hubungannya dengan moral atau kesusilaan.
Diatas telah disebutkan bahwa pelaksanaan etika dalam kehidupan bermasyarakat berbeda-beda, tergantung dari kebiasaan yang berlaku. Oleh karena itu, hubungan etika dalam kehidupan masyarakat modern yang sudah kompleks, dapat dibedakan menurut bidangnya, sehingga dikenal adanya etika dalam kehidupan sosial, etika dalam jurnalistik, dan etika dalam jurnalistik, dan etika dalam politik.
Dalam kehidupan sosial,terutama di indonesia, etika lebih populer dengan sebutan etiket yang berarti sopam antun. Dikenal dengan etiket, seperti atiket makan, etiket berpakaian, dan etiket berbicara. Sopan santun dalam kaitannya dengan soal makan telah dikemukakan di atas. Berikut ini akan diberikan pula penggambaran yang berkaitan dengan etiket berpakaian dan etiket berbicara.
Dalam pemberian, dikenal adanya kode etik jurnalistik,yaitu merupakan kode atau cara pemberitaan yang dinilai sopan berdasarkan kesepakatan bersama. Misalnya, dalam memberitakaan seeorang yang sedang menjadi terdakwa yang belum tentu akan dinilai salah, demi nama baik orang itu namanya tidak disebut penuh, cukup disebutkan singkatannya saja. Namun, [22]apabila si terdakwa dinyatakan bersalah oleh pengadilan, namanya dapat dituliskan secara penuh, bahkan gambarnya pun boleh dimuat.
Etika dalam politik juga didasarkan atas aturan permainan yang telah disepakati atau berlangsung. Dalam negara demokrasi yang kekuasaannya ada di tangan rakyat, hak-hak asasi rakyat harus dihormati. Pelanggaran terhadap hak-hak asasi rakyat bukan saja dapat dituntut secara huku, tetapi secara etika juga tidak dibenarkan.
c.       Estetika
[23]Estetika dapat diartikan lain sebagai teori tentang kehidupan. Keindahan dapat diartikan beberapa hal yaitu:
1.      Secara luas yaitu mengandung ide yang baik yang meliputi watak indah, hukum yang indah, ilmu yang indah, dan lain sebagainyaa.
2.      Secara sempit yaitu keindahan yang terbatas pada lingkup persepsi penglihatan (bentuk dan warna)
3.      Secara estetik murni yaitu menyangkut pengalaman yang berhubungan dengan penglihatan, pendengaran dan etika.
4.      Kebajikan
[24]Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakikatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma norma-norma agama atau etika. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, makhluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik.
Kebajikan adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan berarti berlaku sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.


5.      Sikap Hidup
[25]Sikap hidup ialah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini.Sikap itu ada di dalam hati kita dan hanya kitalah yang tahu. Orang lain hanya baru tahu setelah kita bertindak. Sikap itu penting,setiap manusia mempunyai sikap dan sudah tentu tiap-tiap orang berbeda sikapnya. Sikap dapat di bentuk sesuai dengan kemauan yang membentuknya. Pembentukan sikap ini terjadi melalui pendidikan. Sikap dapat juga berubah karena situasi, kondisi, dan lingkungan.
Dalam menghadapi kehidupan, yang berarti manusia menghadapi manusia lain atau menghadapi kelompok manusia ada beberapa sikap etis dan sikap non etis. Sikap etis ini disebut sikap positif. Sedangkan sikap non etis disebut sikap negatif. Ada tujuh sikap etis, yaitu: sikap lincah, sikap tenang,sikap halus, sikap berani, sikap berani sikap arif, sikap rendah hati, dan sikap bangga. Sikap non etis atau sikap negatif ialah: sikap kaku, sikap gugup, sikap kasar, sikap takut, sikap angkuh dan sikap rendah diri. Sikap non etis harus dijauhkan dari diri pribadi-pribadi, karena sangat merugikan baik diri sendiri maupun kemajuan bangsa. Selain itu, ada sikap dalam menghadapi saudara tua/muda, dan menghadapi orang yang berada di rumah kita










II. PROBLEMATIKA HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERADAB
[26]Adab artinya sopan. Manusia sebagai mahkluk yang beradab artinya pribadi manusia itu memiliki potensi untuk berlaku sopan, berahklak, dan berbudi pekerti yang luhur menunjuk pada perilaku manusia. Orang yang beradab adalah orang yang berkesopanan, berahklak, dan berbudi pekerti dalam perilaku, termasuk pula dalam gagasan-gagasannya. Manusia yang beradab adalah manusia yang bisa menyelaraskan antara cipta, rasa, dan karsa.
Namun dalam perkembangannya, manusia bisa jatuh dalam perilaku yang tidak kebiadaban karena tidak mampu menyeimbangkan atau mengendalikan cipta, rasa, dan karsa yang dimilikinya. Manusia tersebut melanggar hakekat kemanusiaannya sendiri. Manusia yanng beradab tentunya ingin hidup di lingkungan yang beradab pula. Sehingga terbentuklah masyarakat yang beradab.
[27]Saat ini moral bukan lagi menjadi hal penting dalam diri para remaja,kebanyakan dari mereka lebih mementingkan ego nya sendiri sehingga apa yang mereka lakukan terkadang tidak didasari oleh rasa kemanusiaan serta rasa religius yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai serta adab yang diajarkan oleh agama yang dianut nya masing-masing. banyak kasus-kasus yang mencerminkan telah rusaknya moral remaja Indonesia seperti halnya masih semaraknya kelompok/geng disekolah yang meresahkan warga dengan aksi-aksi yang mereka lakukan seperti tawuran,Masa orientasi siswa baru yang sadis dengan dilakukannya penganiayaan bahkan sampai perilaku seks bebas di dalam ruang kelas. Strategi pembelajaran moral sangat diperlukan karena banyaknya perilaku moral dikalangan siswa seperti membolos,mencontek ketika ujian atau ulangan harian dan berkelahi antar teman . selain itu maraknya kasus Curanmor (Pencurian motor) yang dilakukan oleh para remaja bahkan sampai kepada kasus pembegalan yang akhir-akhir ini sangat meresahkan warga dikarenakan bukan hanya harta mereka saja yang hilang,namun nyawa pun kian terancam.Maksi-aksi brutal yang dilakukan oleh para remaja tersebut telah jelas bahwa remaja Indonesia saat ini tengah megalami krisis moral yang amat sangat memprihatinkan.
III.                        SOLUSI DAN SARAN
1.      Solusi
Aksi-aksi brutal yang dilakukan oleh para remaja tersebut telah jelas bahwa remaja Indonesia saat ini tengah megalami krisis moral yang amat sangat memprihatinkan. Dengan ini solusi yang dapat kita ambil untuk mengatasi masalah kerusakan moral yang terjadi pada remaja Indonesia yaitu :
1)      menanamkan pendidikan karakter sejak dini.
[28]Anak adalah generasi penerus bangsa yang membutuhkan pendidikan serta pemenuhan hak-hak nya untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya” (Nadiroh, n.d.)
karena sejatinya karakter yang baik dapat dibentuk sejak dini. untuk pendidikan karakter ini sebaiknya tidak hanya mengandalkan pendidikan formal saja,namun pendidikan karakter ini juga dapat ditanamkan dalam lingkungan keluaraga yang merupakan agen utama untuk membentuk sebuah karakter yang baik pada anak.
2)      Pemilihan teman dalam pergaulan dan lingkungan yang tepat.
pergaulan sangat memengaruhi karakter dari dalam diri seseorang,apalagi pada tahap remaja,mereka sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain. oleh karena itu orang tua sebagai agen utama sebaiknya lebih memperhatikan serta memantau lagi bagaimana pergaulan anak-anak mereka diluar dan dengan siapa saja mereka saat berada diluar lingkup rumah.
3)      Mampu memanfaatkan perkembangan IPTEK dengan baik.
karena dengan tekonologi,kini kita dapat mengakses dengan mudah hal-hal apapun yang kita inginkan,terlebih lagi semakin marak nya video-video porno di kalangan remaja yang dapat merusak moral.
4)       Meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
karena sesuatu apapun yang dilandasi dengan iman dan takwa tidak akan mengarah ke hal-hal yang negatif. Dengan kita mengingat dan menyadari bahwa ada Tuhan yang selalu mengawasi apapun yang kita lakukan,maka dengan itu kita pun akan lebih sadar bahwa apapun yang kita lakukan di dunia tentu ada konsekuensi serta pertanggung jawaban nya di Akhirat kelak.
5)      menggalakan pendidikan moral serta pengembangan karakter pada mata pelajaran disekolah.
[29]“Pendidikan moral melibatkan dukungan otoritatif dari norma,yaitu seperangkat aturan atau standar penilaian yang terkait dengan beberapa wilayah perilaku individu “(Taher et al., 2008). karena sejatinya pendidikan yang baik tidak hanya mengedepankan prestasi akademik saja,namun harus di imbangkan dengan pendidikan moral yang bertujuan agar peserta didik menjadi manusia yang cerdas serta bermoral.
2.      Saran
Dengan semakin merosotnya moral pada remaja Indonesia saat ini, sebaiknya tingkah laku atau tindakan Remaja lebih dapat dikontrol lagi,dimulai dari lingkup keluarga,sekolah bahkan sampai kedalam lingkup masyarakat.Untuk meminimalisir terjadinya berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh remaja alangkah baiknya kita memberikan sesuatu hal yang lebih mengedukasi dan memberikan hal-hal positif yang dapat mereka lakukan.








DAFTAR PUSTAKA
Budiawati, Yulia, dkk. 2006. Ilmu Budaya Dasar. Jakarata: Universitas Terbuka.
Fauzi, F., Arianto, I., Solihatin, E. 2013. “Peran Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Dalam Upaya Pembentukan Karakter Peserta Didik”. Jurnal PPKN Unj Online. 1 (2): 1-5.
Hoedojo, A.S. 1979. Beberapa Catatan dan Persoalan Etika (Filsafat Praktis). Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM.
Mulyono. 2018. Buku Ajar Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Semarang: Stikes Widya Husada.
Nadiroh, N. (n.d). Peran Strategi Ruang Publik Terpadu Ramah Terhadap Lingkungan,104-117.
Nasution, Muhammad Syukri Albani Nasution, dkk. 2015. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Rajawali Pers.
Prasetya, Joko Tri. 2013. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Reksiana.2018.”Kerancuan Istilah Karakter, Akhlak, Moral, dan Etika”.Thaqafiyyat. 19 (1): 9-10.
Sukardi.2013. Ilmu Sosial Budaya Dasar (Buku Ajar). Jawa Timur: Forum Ilmiah Kesehatan (Forikes).
Taher, A., Bimbingan, J., Tarbiyah, F., Larry, P., Nucci, P., dan Narvaez, D. 2008.   “Pendidikan Moral dan Karakter: Sebuah Panduan”. Pendahuluan Penting Terkait dengan Pendidikan Moral dan Karakter.14 : 545-558.
Widyosiswoyo, Supartono. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia.
Zubair, Achmad Charis. 1987. Kuliah Etika. Jakarta: Rajawali Pers.


[1] Budiawati, Yulia, dkk. 2006. Ilmu Budaya Dasar. Jakarata: Universitas Terbuka, hh. 2.3-2.7.
[2] Loc.cit

[3] Ibid , hh. 2.9-2.11.
[4] Loc.it.

[5] Ibid. Hh. 2.12-2.13
[6] Loc.it.
[7] Widyosiswoyo, Supartono. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia.Zubair, Achmad Charis. 1987. Kuliah Etika. Jakarta: Rajawali Pers.hh.14-18.

[8] Ibid.hh.18-21.
[9] Nasution, Muhammad Syukri Albani Nasution, dkk. 2015. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Rajawali Pers.hh.65-66.
[10] Sukardi.2013. Ilmu Sosial Budaya Dasar (Buku Ajar). Jawa Timur: Forum Ilmiah Kesehatan (Forikes).h.20

[11] Nasution, Muhammad Syukri Albani Nasution, dkk op.cit. hh. 66-67.
[12] Reksiana.2018.”Kerancuan Istilah Karakter, Akhlak, Moral, dan Etika”.Thaqafiyyat. 19 (1): 9-10.

[13] Budiawati, Yulia, dkk op.cit.h. 6.5
[14] Reksiana op.cit. hh. 9-10
[15] Budiawati, Yulia, dkk op.cit.h. 6.9.
[16] Prasetya, Joko Tri. 2013. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.hh.154-157.

[17] Ibid. h.157.
[18] Budiawati, Yulia, dkk op.cit.h. 6.9-6.10.
[19] Budiawati, Yulia, dkk op.cit.h. 6.10-6.11.
[20] Widyosiswoyo, Supartono op.cit.hh. 141-142.
[21]Ibid. 142-143.
[22] Ibid.h.143.
[23] Mulyono. 2018. Buku Ajar Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Semarang: Stikes Widya Husada.h.8.
[24] Prasetya, Joko Tri op.cit.hh.176-177.
[25] Ibid. hh.179-180.
[26] Sukardi op.cit.h.20.
[27] Fauzi, F., Arianto, I., Solihatin, E. 2013. “Peran Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Dalam Upaya Pembentukan Karakter Peserta Didik”. Jurnal PPKN Unj Online. 1 (2): 1-5.

[28] Nadiroh, N. (n.d). Peran Strategi Ruang Publik Terpadu Ramah Terhadap Lingkungan. hh.104-117.

[29] Taher, A., Bimbingan, J., Tarbiyah, F., Larry, P., Nucci, P., dan Narvaez, D. 2008.   “Pendidikan Moral dan Karakter: Sebuah Panduan”. Pendahuluan Penting Terkait dengan Pendidikan Moral dan Karakter.14 : 545-558.

Monday, June 17, 2019

THE GILI ISLAND ( Unique tropical escapes )


THE GILI ISLAND
Unique tropical escapes!
Three perpect corai island –Gili –Trawangan ,Gili Meno and Gili Air – fringed with white sands and swaying palm trees,lay in the sparkling ocean just off the north-west coast of Lombok.
Every year the Gilis attract tens of thousands of visitors from around the world for  their pristine waters,great diving and snorkeling opportunities,and laid-back charm.
The world Gili actually means”small island”,and so these islands have come to be known as”The Gilis” by travelers.the Gilis are Lombok’s most popular islands and are consistently rated as top SEA island destinations by travelllers and travel publications.
Although previously popular mainly with backpackers ,the Gilis now attract a diverse range of visitors – serious diving enthusiasts,sun seekers looking for the perpect beach gateway,singles,families,and couples of all ages find something to attract  them to the Gilis.
There is a good selection accommodations,restaurant and bars on all tree islands,with the biggest range of Gili Trawangan.
While nobody comes to the Gilis for shopping,each island has many small shops selling essentials such as sunscreen,mousquito repllent,toiletries.cold drinks,snack and more.In addition,there are cheap clothing and t-shirt,sarongs and local handicrafts stalls.
Activities include walking,ridding bikes horse riding and kayaking on Gili T,yoga message and beuty treatments,glass bottom boat trips and island hopping,live – aboard  dive trips and cruises to nearby islands,fishing,sailing,surfing and all kinds of water – based activities.
The island provide ample opportunities for visitors to swim,relax,sunbathe,explore,snorkel or scuba dive with the many internationally accredited dive operatos based in Lombok.
Snorkeling is easy in the calm waters directly off the beaches,with planty of colourful fish to see.
At greater depths  and at specific dive location around the tree islands,the pristine waters are home to an abundant variety of corals,aquatic life ans thousand of spesies  of tropical fish.
An impressive array of sea life can be seen,including green and hawksbill turtles,morays,barracuda,reef sharks,occasionallyleopard shark and manta rays,and much more.
Visibility is very good and commonly in the 15-30 m range;and water  temperatures average 23°C (73°F) to 29°C (84°F).
Currents around the islands can be quite strong and drift diving is the norm.
Many of the popular dive companies are ownedaand operated by westerners  PADI and SSI licened dive operators,with professional standards of safety and environmental awareness,exist on all three islands.
Each Gili has developed independently and at different paces,giving each a different “personality’ or style,and catering to different types of holidaymakers and travelers.
This means that travelers have a good choice,depending on their individual tastes and what type of island escape they prefer.
Gii Trawangan is the most develoved and popular of the three,with the greatest range of facilities and activities;while Gili Air has a relaxed,laid-back style and is popular with coupels and families.
Gili Meno is the quitest of the three,perfect for really getting away from it all.
Choose the island that suit you most,or it’s easy to combine an island – hopping holiday to sample the best of all three!

Wednesday, June 12, 2019

LANDASAN PENDIDIKAN


LANDASAN PENDIDIKAN 
Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar atau alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak atau dasar pijakan ini dapat bersifat material (contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual (contoh: landasan pendidikan). Pendidikan antara lain dapat dipahami dari dua sudut pandang, pertama dari sudut praktek sehingga kita mengenal istilah praktek pendidikan, dan kedua dari sudut studi sehingga kita kenal istilah studi pendidikan. [1]
Dalam pengembangan pendidikan diperlukan landasan-landasan yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah, teknologi maupun etik relegius. Salah satu problema pendidikan dalam pengembangannya adalah foundational problems, istilah ini diartikan sebagai alas, landasan sebagai dasar atau tumpuan. Pondasi sebagai alas atau pijakan berdirinya sesuatu hal memiliki dua sifat, ada yang bersifat material dan ada yang bersifat konseptual. Suyitno dalam Muhaimin mengemukakan bahwa pondasi/landasan yang bersifat matrial antara lain berupa landasan pacu pesawat terbang( bangunan yang kokoh ), sedang pondasi/landasan pendidikan yang bersifat konseptual antara lain berupa dasar Negara Indonesia yaitu “ Pancasila dan UUD 1945, Sisdiknas, Peraturan Pemerintah tentang pendidikan, dan sebagainya.[2] Dengan demikian pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis selalu bertolak dari sejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan.[3] Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk menjemput masa depan. Landasan Pendidikan Nasional sebagai wahana dan sarana pembangunan negara dan bangsa dituntut mampu mengantisipasi proyeksi kebutuhan masa depan.
Tuntutan tersebut sangat bergayut dengan aspek-aspek penataan pendidikan nasional yang bertumpu pada basis kehidupan masyarakat Indonesia secara komprehensif.Untuk kepentingan penataan pendidikan nasional yang benar-benar merefleksi kehidupan bangsa, maka sangat penting pendidikan nasional memiliki beberapa landasan yaitu; landasan filosopis, sosilogis, yuridis dengan penajaman landasan tersebut secara kritis dan fungsional.
  1. Landasan Filosofis
Landasan Filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok seperti: Apakah pendidikan itu, mengapa pendidikan itu diperlukan, apa yang seharusnya menjadi tujuannya, dan sebagainya.
Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat (falsafat, falsafah). Kata filsafat (philosophy) bersumber dari bahasaYunani, philein berarti mencintai, dan sophos atau sophis berarti hikmah, arif, atau bijaksana. filsafat artinya cinta akan kebijaksanaan atau kebenaran. Filsafat pendidikan ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam samapai akar-akarnya mengenai pendidikan.[4]
Empat mazhab filsafat pendidikan yang besar pengaruhnya dalam pemikiran dan penyelenggaraan pendidikan. Keempat mazhab filsafat pendidikan itu (Redja Mudyahardjo, et. Al., 1992: 144-150; Wayan Ardhana, 1986 :14-18) adalah:
a)         Esensialisme.
Esensialisme merupakan mazhab filsafat pendidikan yang menerapkan prinsip idealisme dan realisme secara eklektis. Berdasarkan eklektisisme tersebut tersebut maka esensialisme tersebut menitikberatkan penerapan prinsip idealisme atau realisme dengan tidak meleburkan prinsip-prinsipnya

b)         Perenialisme
Ada persama antara perenialisme dan esensialisme, yakni keduanya membela kurikulum tradisional yang berpusat pada mata pelajaran yang poko-pokok (subject centered). Perbedaannya ialah perenialisme menekankan keabadian teori kehikamatan, yaitu:
1). Pengetahuan yang benar (truth)
2). Keindahan (beauty)
3). Kecintaan kepada kebaikan (goodness)
c)         Pragmatisme dan Progresivisme
Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan.Progresivisme yaitu perubahan untuk maju. Manusia akan mengalami perkembangan apabila berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya berdasarkan pemikiran

d)         Rekonstruksionisme
Rekonstruksionalisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam pendidikan. Individu tidak hanya belajar tentang pengalaman-pengalaman-pengalaman kemasyarakatan masa kini disekolah, tapi haruslah memelopori masyarakat kearah masyarakatbaru yang diinginkan.[5]
Nasution (1982) menyebut manfaat filsafat pendidikan adalah sebagai berikut:
·      Filsafat pendidikan dapat menentukan arah (direction) akan ke mana anak didik di bawa. Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan oleh masyarakat untuk mendidik anak bangsa sesuai dengan harapan dan cita cita masyarakat tersebut.
·      Dengan adanya tujuan pendidikan, yang diwarnai oleh filsafat pendidikan yang dianut, kita mendapat gambaran yang jelas tentang hasil( output) yang harus dicapai dalam program pendidika. Pribadi anak didik yang bagaimanakah yang akan di tempa dalam garapan pendidikan.
·      Filsafat pendidikan menentukan cara dan proses untuk mencapai tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
·      Filsafat dan tujuan pendidikan akan memberi kesatuan yang bulat  (unity0 tentang segala upaya pendidikan yang dilakukan. Garapan pendidikan dilaksanakan secara sistemik,berkesinambungan, serta berhubungan erat satu sama lain.
·      Filsafat dan tujuan pendidikan memungkinkan para pengelola pendidikan melakukan penilaian tentang segala upaya yang telah dilaksanakan dalam implementasi pendidikan.[6]
Filsafat pendidikan nasional Indonesia berakar pada nilai-nilai budaya yang terkandung pada Pancasila. Nilai Pancasila tersebut harus ditanamkan pada peserta didik melalui penyelenggaraan pendidikan nasional dalam semua level dan tingkat dan jenis pendidikan. Nilai-nilai tersebut bukan hanya mewarnai muatan pelajaran dalam kurikulum tetapi juga dalam corak pelaksanaan. Rancangan penanaman nilai budaya bangsa tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga bukan hanya dicapai penguasaan kognitif tetapi lebih penting pencapaian afektif. Lebih jauh lagi pencapaian nilai budaya sebagai landasan filosopis bertujuan untuk mengembangkan bakat, minat dan kecerdasan dalam pemberdayaan yang seoptimal mungkin. Dua hal yang dipertimbangkan dalam menentukan landasan filosopis dalam pendidikan nasional Indonesia. Pertama, adalah pandangan tentang manusia Indonesia sebagai:
a. Makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya.
b. Makhluk individu dengan segala hak dan kewajibannya.
c. Makhluk sosial dengan segala tanggung jawab yang hidup di dalam masyarakat yang pluralistik baik dari segi lingkungan sosial budaya, lingkungan hidup dan segi kemajuan Negara kesatuan Republik Indonesia di tengah-tengah masyarakat global yang senantiasa berkembang dengan segala tantangannya.[7]
Kedua pendidikan nasional dipandang sebagai pranata sosial yang selalu berinteraksi dengan kelembagaan sosial lain dalam masyarakat.
Kedua pandangan filosopis tersebut menjadikan pendidikan nasional harus ditanggung oleh semua fihak, sehingga pendidikan dibangun oleh semua unsur bangsa yang dapat berkontribusi terhadap unsur pranata sosial lainnya. Secara mendasar dapat ditegaskan bahwa landasan filosopis Pancasila dalam sistem pendidikan nasional menempatkan peserta didik sebagai makhuk yang khas dengan segala fitrahnya dan tugasnya menjadi agen pembangunan yang berharkat dan bermartabat.[8] Oleh karena itu landasan filosopis pendidikan nasional memberikan penegsan bahwa penyelenggaraan pendidikan nasional di Indonesia hendaknya mengimplementasikan ke arah:
a.              Sistem pendidikan nasional Indonesia yang bertumpu pada norma persatuan bangsa dari segi sosial, budaya, ekonomi dan memlihara keutuhan bangsa dan negara.
b.             Sistem pendidikan nasional Indonesia yang proses pendidikannya memberdayakan semua institusi pendidikan agar individu dapat menghargai perbedaan individu lain, suku, ras, agama, status sosial, ekonomi dan golongan sebagai manifestasi rasa cinta tanah air. Dalam hal ini pendidikan nasional dipandang sebagai bagian dari upaya nation character building bagi bangsa Indonesia.
c.              Sistem pendidikan nasional Indonesia yang bertumpu pada norma kerakyatan dan demokrasi. Pendidikan hendaknya memberdayakan pendidik dan lembaga pendidikan untuk terbentuknya peserta didik menjadi warga yang memahami dan menerapkan prinsip kerakyatan dan demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Prinsip kerakyatan dan demokrasi harus tercermin dalam input-proses penyelenggaraan pendidikan Indonesia.
d.             Sistem pendidikan nasional Indonesia yang bertumpu pada norma keadilan sosial untuk seluruh warga negara Indonesia. Perencanaan dan pelaksanaan pendidikan menjamin pada penghapusan bentuk diskriminatif dan menjamin terlaksananya pendidikan untuk semua warga negara tanpa kecuali.
e.              Sistem pendidikan nasional yang menjamin terwujudnya manusia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa, menjunjung tinggi hak asasi manusia, demokratis, cinta tanah air dan memiliki tanggungjawab sosial yang berkeadilan. Dengan demikian Pancasila menjadi dasar yang kokoh sekaligus ruh pendidikan nasional Indonesia.[9]

  1. Landasan Sosiologis
Landasan sosiologis pendidikan juga merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Kegiatan pendidikan itu merupakan suatu proses interaksi antar pendidik dengan peserta didik, antara generasi satu dengan generasi yang lainnya. Kajian sosiologi pendidikan sangat esensial, karena merupakan sarana untuk memahami sistem pendidikan dengan keseluruhan hidup masyarakat. Landasan sosiologi pendidikan merupakan asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan
Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang:
1) Hubungan pendidikan dengan aspek masyarakat lain,yang mempelajari:
·         Fungsi pendidikan dalam kebudayaan
·         Hubungan sisitem pendidikan dan proses kontrol sosiala dengan sstem kekuasaan lain
·         Fungsi pendidikan dalam memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan kebudayaan
·         Hubungan antar kelas sosial
·         Fungsional pendidikan formal yang mencakup hubungan dengan ras,kebudayaam dan kelompok kelompok dalam masyarakat
2) Hubungan kemanusiaan di sekolah yang meliputi:
·         Sifat kebudayaan dalam sekolah yang khusus dan berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah
·         Pola interaksi dan struktur masyarakat sekolah
3) Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya,yang mempelajari:
·         Peranan sosial guru
·         Sifat kepribadian guru
·         Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laju sisiwa
·         Fungsi sosial sekolah pada sosialisasi anak anak
4) Sekolah dalam komunitas,mempelajari pola interaksi antara sekolah    dalam komunitasnya yang meliputi:
·         Pelukisan komunitas sekolah sepertti tampaknya dalam prganisasi sekolah
·         Analisis tentang proses pendidikan seperti tampak pada kaum sosila tak terpelajar
·         Hubungan antara sekolah dan komunitas dalam fungsi pendidikannya
·         Faktor faktor demografi dan ekologi dalam organisasi sekolah[10]
Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu bahkan dua generasi, yang memungkinkan dari generasi kegenerasi berikutnya mengembangkan diri searah dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat pada zamannya.[11] Oleh karena itu dalam mengahdapi kondisi seperti itu, lembaga pendidikan harus diberdayakan bersama dengan lembaga sosial lainnya. Dalam hal ini pendidikan disejajarkan dengan lembaga ekonomi, politik sebagai pranata kemasyarakatan, pembudayaan masyarakat belajar (society learning) harus dijadikan sarana rekonstruksi sosial. Apabila perencanaan pendidikan yang melibatkan masyarakat bisa tercapai maka patologi sosial setidaknya terkurangi. Hasrat masyarakat untuk belajar semakin meningkat.
Sistem pendidikan nasional hendaknya melibatkan berbagai elemen masyarakat, meskipun pemerintah telah menyiapkan dana khusus untuk pembangunan dibidang pendidikan, namun jika pendidikan akan ditingkatkan mutu atau kualitasnya, maka otomatis peran serta masyarakat sangat dibutuhkan bahkan menentukan. Demikian pula apabila pendidikan hanya terarah pada tujuan pembelajaran murni pada aspek kognitif, afektif tanpa mengaitkan dengan kepentingan sosial, politik dan upaya pemecahan problem bangsa, maka pendidikan tidak akan mampu dijadikan sebagai sarana rekonstruksi sosial.[12]Dalam kaitannya dengan perluasan fungsi pendidikan lebih jauh, maka diperlukan pengembangan sistem pendidikan nasional yang didasarkan atas kesadaran kolektif bangsa dalam kerangka ikut memecahkan problem sosial. Masalah yang kini sedang dihadapi bangsa adalah masalah perbedaan sosial ekonomi sehingga pendidikan dirancang untuk mengurangi beban perbedaan tersebut. Aspek sosial lainnya seperti ketidaksamaan mengakses informasi yang konsekuensinya akan mempertajam kesenjangan sosial dapat dieleminir melalui pendidikan.

  1.  Landasan Kultural
Menurut Nana Sudjana( 1989) menyebutkan tiga gejala yang diwujudkan dalam kebudayaan umat manusia, berupa:
1)      Ide dan gagasan seperti: konsep, nilai, norma, peraturan sebagai hasil cipta dan karya manusia.
2)      Kegiatan seperti tindakan yang berpla dari manusia dalam masyarakat.
3)      Hasil karya cipta manusia.
oleh karena pendidikan merupakan suatu proses budaya, maka garapannya akan senantiasa dalam upaya membina dan mengembangkan cipta, rasa, dan karsa ke dalam tiga wujud diatas [13]
Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedangkan setiap manusia selalu menjadi anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu. Oleh karena itu dalam Undang undang RI no. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 2 ditegaskan bahwa, pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasar Pancasila dan undang-undang Dasar Negara republik Indonesia Tahun 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap perubahan zaman. Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, kebudayaan dapat diwariskan dengan jalan meneruskan kepada generasi penerus melalui pendidikan. Sebaliknya pelaksanaan pendidikan ikut ditentukan oleh kebuadayaan masyarakat dimana proses pendidikan berlangsung.

  1.  Landasan Psikologis
Landasan psikologis pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikir, dan belajar
Pemahaman peserta didik utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, merupakan faktor keberhasilan untuk pendididkan. Dalam maksud itu, Psikologi menyediakan sejumlah informasi/kebutuhan tentang kehidupan pribadi manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi.
Seperti di kemukakakn teori A.maslow kategori kebutuhan menjadi enam kategori meliputi:
·         Kebutuhan fisiologis: kebutuhan memmpertahankan hidup (makan, tidur, istrahat dan sebagainya)
·         Kebutuhan rasa aman: kebutuhan terus nenerus merasa aman dan bebasdari ketakutan
·         Kebutuhan akan cinta dan pengakuan:kebutuhan rasa kasih sayang dalam kelompok
·         Kebutuhan akan alkuturasi diri:kebutuhan akan potensi potensi yang di miliki
·         Kebutuhan untuk mengetahui dan di pahami:kebutuhan akan berkaitan dengan penguasaan iptek[14]
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam pendidikan. Memahami peserta didik dari aspek psikologis merupakan salah satu faktor keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu hasil kajian dalam penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan, umpamanya pengetahuan tentang urutan perkembangan anak. Setiap individu memiliki bakat, minat, kemampuan, kekuatan, serta tempo dan irama perkembangan yang berbeda dengan yang lainnya.[15] Sebagai implikasinya pendidikan tidak mungkin memperlakukan sama kepada peserta didik. Penyusunan kurikulum harus berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar program pengajaran serta tingkat keterincian bahan belajar yang digariskan.

  1.  Landasan Ilmiah dan Teknologi
Landasan yang sangat mempengaruhi pendidikan adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Hal yang patut diakui, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam beberapa dasawarsa terakhir ini maju dengan pesat, sebagai buah dari kegiatan penelitian dalam bidang ilmu murni (pure science) dan ilmu terapan (applied science ) yang berkembang pesat pula. Perkembangan ini jelas memberi pengaruh dan dampak yang sangat kuat pada garapan pada pendidikan. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan isi kurikulum pendidikan. Sedaangkan isi kurikulum itu sendiri merupakan kumpulan pengalaman manusia yang disusun secara sistematis dan sistemik sebagai hasil atau buah karya kebudayaan manusia. Oleh sebab itu, pemilihan sebaran dan isi kurikulum dalam suatu program pendidikan pada hakikatnya merupakan penetapan isi atau ilmu yang relevan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Di sini berarti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai salah satu karakteristik perkembangan sosial budaya, akan memberi corak dan warna bagi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pendidikan.[16]
Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai kaitan yang erat. Seperti diketahui IPTEK menjadi isi kajian di dalam pendidikan dengan kata lain pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek. Dari sisi lain setiap perkembangan iptek harus segera diimplementasikan oleh pendidikan yakni dengan segera memasukkan hasil pengembangan iptek ke dalam isi bahan ajar. Sebaliknya, pendidikan sangat dipengaruhi oleh cabang-cabang iptek (psikologi, sosiologi, antropologi, dsb). Seiring dengan kemajuan iptek, maka pada umumnya ilmu pengetahuan juga berkembang sangat pesat.[17]
 ( By : Fenisia Alfiana )



[1] Hamzan Junaid, op.cit, hh.90-91.
[2] Muhaimin, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam ( Cet. I,
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), h. 4.
[3] Umar Tirtarahardja dkk(Cet 2),op.cit,h.92.
[4] Umar Tirtarahardja(Cet 1), op.cit. h.83.
[5] Ibid. hh. 88-91.
[6] Dinn Wahyudin ,dkk, pengantar pendidikan, (Cet.16, Jakarta: Universitas Tebuka, 2006),h.2.5.
[7] Rubino Rubiyanto, dkk, Landasan Pendidikan,( Cet. I, Surakarta;
Muhammadiyah University Press, 2003). H. 17. Dan lihat Reka Joni, T, Penelitian
Pengembangan dalam Pembaruan Pendidikan ( Cet. I, Jakarta: P2LPTK Ditjen Depdikbud,
1984) h.45.
[8] Umar Tirtarahardja,op. cit, h. 92.
[9] Rubino Rubiyanto, dkk, op.cit, h. 19.
[10] Umar Tirtarahardja, op. cit, h. 95-96.
[11] Ibid,h. 96.
[12] Ibid, h. 98
[13] Dinn Wahyudin ,dkk, op.cit, h.2.7.
[14] Umar Tirtarahardja,op. Cit,h. 104.
[15]Ibid,h. 105.
[16] Dinn Wahyudin ,dkk, op.cit, hh.2.9-2.10.
[17] Umar Tirtarahardja,op. cit, h. 113.

BUKU PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK

BUKU PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK
DOWNLOAD HERE

BUKU INOVASI MODEL PEMBELAJARAN ( INOBEL )

BUKU INOVASI MODEL PEMBELAJARAN ( INOBEL )
DOWNLOAD HERE

Monday, June 10, 2019

PROBLEMATIKA HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERADAB


 PROBLEMATIKA HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERADAB
[1]Adab artinya sopan. Manusia sebagai mahkluk yang beradab artinya pribadi manusia itu memiliki potensi untuk berlaku sopan, berahklak, dan berbudi pekerti yang luhur menunjuk pada perilaku manusia. Orang yang beradab adalah orang yang berkesopanan, berahklak, dan berbudi pekerti dalam perilaku, termasuk pula dalam gagasan-gagasannya. Manusia yang beradab adalah manusia yang bisa menyelaraskan antara cipta, rasa, dan karsa.
Namun dalam perkembangannya, manusia bisa jatuh dalam perilaku yang tidak kebiadaban karena tidak mampu menyeimbangkan atau mengendalikan cipta, rasa, dan karsa yang dimilikinya. Manusia tersebut melanggar hakekat kemanusiaannya sendiri. Manusia yanng beradab tentunya ingin hidup di lingkungan yang beradab pula. Sehingga terbentuklah masyarakat yang beradab.
[2]Saat ini moral bukan lagi menjadi hal penting dalam diri para remaja,kebanyakan dari mereka lebih mementingkan ego nya sendiri sehingga apa yang mereka lakukan terkadang tidak didasari oleh rasa kemanusiaan serta rasa religius yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai serta adab yang diajarkan oleh agama yang dianut nya masing-masing. banyak kasus-kasus yang mencerminkan telah rusaknya moral remaja Indonesia seperti halnya masih semaraknya kelompok/geng disekolah yang meresahkan warga dengan aksi-aksi yang mereka lakukan seperti tawuran,Masa orientasi siswa baru yang sadis dengan dilakukannya penganiayaan bahkan sampai perilaku seks bebas di dalam ruang kelas. Strategi pembelajaran moral sangat diperlukan karena banyaknya perilaku moral dikalangan siswa seperti membolos,mencontek ketika ujian atau ulangan harian dan berkelahi antar teman . selain itu maraknya kasus Curanmor (Pencurian motor) yang dilakukan oleh para remaja bahkan sampai kepada kasus pembegalan yang akhir-akhir ini sangat meresahkan warga dikarenakan bukan hanya harta mereka saja yang hilang,namun nyawa pun kian terancam.Maksi-aksi brutal yang dilakukan oleh para remaja tersebut telah jelas bahwa remaja Indonesia saat ini tengah megalami krisis moral yang amat sangat memprihatinkan.


[1] Sukardi op.cit.h.20.
[2] Fauzi, F., Arianto, I., Solihatin, E. 2013. “Peran Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Dalam Upaya Pembentukan Karakter Peserta Didik”. Jurnal PPKN Unj Online. 1 (2): 1-5.


Search This Blog